Terapi Okupasi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

          Melahirkan seorang anak yang memiliki keunikan melebihi anak-anak pada umumnya menjadi sebuah tantangan yang tidak mudah bagi orang tua. Selain karena kemampuan mereka dalam berpikir dan melakukan sebuah tindakan yang sangat berbeda, para orang tua juga dibuat pusing dengan bagaimana mengatur emosi yang mereka miliki. Anak-anak ini dikenal sebagai anak berkebutuhan khusus.

Dilansir dari laman Halodoc, anak berkebutuhan khusus merupakan seorang anak yang memiliki gangguan, baik dalam fisik, emosional, mental, ataupun sosial. Bukan hanya mengalami gangguan, ABK juga mengalami gangguan perkembangan, kesulitan akademis, ketrampilan kesehatan, dan kemandirian.

Siapa saja anak-anak yang tergolong anak berkebutuhan khusus? Mereka adalah Autisme, Hyperactivity disorder, Down Syndrome, Asperger’s Syndrome, Pervasive Development Disorder, Sensory Integration Dysfunction, Cerebral Palsy, Keterlambatan Wicara, serta Gangguan Pendengaran dan Perilaku.

Malalui sebuah terapi bagi anak berkebutuhan khusus dipercaya dapat mengembangkan potensi mereka sejak dini yang terindikasi mengidap kelainan-kelainan yang tergolong sebagai anak ABK. Biar bagaimanapun juga, anak-anak ini adalah titipan yang dikirimkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk para orang tua hebat yang telah dipilih-Nya. Sudah selayaknya anak-anak ini mendapat perlakuan secara intensif dengan metode yang berbeda agar daya pikir, motorik dan sensorik mereka tetap dapat difungsikan untuk diri mereka sendiri.

READ  Mengenal Lebih Mendalam Intoleransi Laktosa

Salah satu terapi yang difokuskan untuk anak berkebutuhan khusus adalah  Occupational Theraphy Games (OTG). Occupational Theraphy Games (OTG)  atau terapi okupasi adalah sebuah terapi yang dikhususkan untuk ABK dengan masalah sensorik, motorik secara kognitif.

Terapi okupasi bertujuan agar anak-anak yang memiliki keterbatasan secara fisik, kognitif dan mental dalam proses perawatannya dapat menjadikan mereka lebih mandiri ketika menjalankan aktivitas di kehidupannya. Aktivitas-aktivas ini yang sifatnya krusial seperti makan, mandi, dan mengenakan pakaiannya sendiri.  Selain itu, aktivitas lainnya berkaitan dengan latihan fisik seperti menggerakkan otot, melatih ketahanan sendinya, dan melenturkan tubuh.

Terapi bagi anak berkebutuhan khusus yang satu ini dilakukan dengan beragam cara yang diterapkan. Berikut beberapa cara yang ada pada terapi okupasi.

  • Melalui Balancing Ring
READ  Apa yang dimaksud dari penyakit gigantisme. Simak berikut ini

Terapi okupasi yang dilakukan dengan cara ini dikemas dalam bentuk permainan. Cara melakukan permainan ini yakni anak berdiri di atas papan, anak diarahkan untuk fokus melihat ke arah depan, dan melempar ring tersebut sehingga tepat masuk ke cone-nya. Dengan begitu anak-anak akan dilatih dalam mengendalikan konsentrasinya juga dimana mereka harus tetap bisa mempertahankan kondisi tubuhnya agar tetap seimbang.

Cara ini dilakukan terhadap anak-anak dengan kondisi seperti Cerebral Palsy, Sindrom Down,  Autisme, Dyspraxia, gangguan perkembangan dan Spina Bifida.

  • Kegiatan Activity Day Learning (ADL)

Kegiatan yang dilakukan dalam terapi okupasi ini meliputi kegiatan seperti menali sepatu dan mengancingkan pakaian mereka sendiri. hal-hal sederhana namun sangat mereka butuhkan.

  • Aktivitas Waktu Luang

Cara dilakukan untuk memberikan motivasi dan dapat memberikan hiburan yang bisa membuat perhatian mereka teralihkan dari hal-hal yang sifatnya mengganggu konsentrasi. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan antara lain seperti menjelajah waktu, yang mana mengidentifikasi ketertarikan anak-anak atau minat mereka terhadap satu hal dan melakukan aktivitas tersebut sesuai dengan kondisi kesehatan yang mereka miliki.

READ  Ketahu ciri-ciri yang terdapat peda penyakit gigantisme itu sendiri

Terdapat 3 hal yang mencakup terapi anak berkebutuhan khusus ini, yakni :

  1. Evaluasi

Merupakan sebuah penentuan apa yang ingin dicapai secara bersama-sama oleh dokter spesialis, pasien dan keluarga pasien. Dokter juga akan mendiagnosis pasien untuk mengetahui penyebab diperlukannya terapi okupasi.

  1. Intervensi

Pada bagian ini, akan ditentukan jenis terapi dan kebutuhan yang memang diperlukan oleh penderita agar penderita dapat beraktivitas secara mandiri lagi.

  1. Evaluasi Hasil

Pada tahap ini, adanya koreksi dan memastikan bahwa terapi yang telah dilakukan dapat menghasilkan sesuatu sesuai dengan tujuan awal.  Dengan terapi ini, anak-anak diharapkan mampu menjalankan aktivitas mereka secara mandiri.

 

Sumber Gambar : theraplacelearning.com