Susun Balok untuk Latih Kemampuan Otak Anak

1331188p

Bingung mau memberikan hadiah mainan untuk anak yang usianya di bawah tiga tahun? Mengapa tidak memberikan mainan susun balok? Mungkin terdengar "tradisional", tetapi permainan ini ternyata memiliki ragam manfaat jika diperkenalkan di usia yang tepat.

Lara Fridani S.Psi, M.Psych, dosen pendidikan anak usia dini (PAUD) di Universitas Negeri Jakarta menjelaskan mengenai baiknya permainan susun balok ini. Menurutnya, susun balok sama halnya dengan permainan puzzle, karena sama-sama dalam permainan konstruktif. Dinamakan demikian, karena anak secara aktif membangun sesuatu menggunakan bahan/material yang sudah tersedia dengan pengetahuan yang dimilikinya. Anak menyusun serta merangkai balok-balok menjadi sebuah bangunan menara, gedung, rumah, jalan, dan sebagainya.

Bermain susun balok berkaitan erat dengan kemampuan intelektual dan koordinasi motorik anak. Di sini anak mengekspresikan gagasan yang ada dalam pikirannya, mengorganisasikan material yang ada, serta berkonsentrasi membuat bangunan atau suatu konstruksi. Karena jenis permainannya terstruktur, anak dapat mengembangkan berbagai aspek kecerdasan, seperti kognitif, spasial, sosial, dan emosi.

Bermain konstruksi seperti susun balok sudah bisa dikenalkan di usia batita. Untuk anak di bawah usia 2 tahun, balok-balok berukuran besar membantunya menggenggam dan menyusun material dengan lebih mudah. Jumlah balok yang mampu disusunnya pun masih sedikit serta berantakan di sana-sini. Bahkan mungkin, di bawah 2 tahun, anak baru mampu memegang dan membolak-balik baloknya. Mereka belum paham betul konsep keteraturan, urutan, bentuk, maupun ukuran.

Menjelang usia 3 tahun barulah anak dapat diperkenalkan pada permainan susun balok ini. Ia sudah paham konsep besar-kecil dan urutan, karena kemampuan belajarnya sudah semakin baik. Dalam pikirannya sudah muncul ide akan diapakan balok-balok tersebut. Dapat dikatakan, anak sudah bisa memaknai permainan ini, yang diperlihatkan dengan munculnya membangun "rumah". Ia akan menumpuk balok-balok yang ada sambil memerhatikan besar kecilnya, kesamaan warna, dan kesimbangan bangunan. Bentuk paling sederhana adalah menara yang dibangun setinggi-tingginya.

Ketika membangun balok-balok yang ada, anak sebetulnya melakukan peniruan terhadap apa yang dilihatnya dalam kesehariannya ditambah imajinasi dan kreasinya sendiri. Kemampuan setiap anak dalam membuat suatu konstruksi tentunya tidak sama, meski usia sama. Hal ini bergantung pada kemampuan dan kematangan motorik halus masing-masing dan stimulasi dari orangtua selama ini.

[Kompas.com]

About these ads

About Klinik Tumbuh Kembang

doctor | blogger | social media junker | father of three cute children | coffee addict

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s