Tumbuh Kembang

Ketahu ciri-ciri yang terdapat peda penyakit gigantisme itu sendiri

Gigantisme suatu kondisi yang berlebihan terhadap produksi hormon pertumbuhan yang terjadi pada anak-anak serta memberi dampak kepada ukuran tinggi dan berat badannya. Kondisi tersebut tergolong langka dan dapat terjadi sebelum lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan di dalam tulang menutup. Penyakit gigantisme tentunya berbeda dengan kondisi akromegali yang terjadi pada orang dewasa, dapat kita ketahui ketika lempeng epifisis sudah menutup. Namun, gigantisme tersebut maupun akromegali sama-sama disebabkan oleh berlebihnya produksi hormon yang tumbuh sehingga dapat menghasilkan kelenjar pituitari atau hipofisis di otak. Pada akromegali, penderita biasanya baru dapat dilakukan diagnosis setelah menderita gejala yang berat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan telatnya pengobatan sehingga mengakibatkan komplikasi yang dapat membahayakan nyawa. Selama masa pertumbuhan, anak-anak yang terkena penyakit gigantisme dapat memiliki ukuran tinggi dan berat badan di atas rata-rata termasuk juga salah satu ciri-ciri gigantisme itu sendiri. Akan tetapi, gigantisme tidak mudah dikenali gejalanya bahkan awalnya dianggap sebagai fase pertumbuhan anak yang wajar.[1] “dilansir dari laman Hellosehat” Gigantisme merupakan suatu kondisi yang sangat langka. Pada umumnya, penyakit tersebut lebih sering ditemukan pada anak-anak. Terdapat pula kondisi pertumbuhan hormon yang berlebihan sehingga dapat terjadi pada sejumlah orang dewasa, namun kondisi ini disebut dengan akromegali. Penyakit gigantisme merupakan suatu kelainan yang dilatarbelakangi oleh beberapa faktor risiko tertentu. Berikut beberapa ciri-ciri gigantisme dan gejala utama yang berhubungan dengan gigantisme adalah ukuran tubuh yang lebih besar dan tinggi dibanding dengan orang-orang normal. Selain itu, terjadi pula pembesaran pada otot dan organ-organ tubuh tertentu. Gejala yang terjadi seperti. Pubertas datang terlambat, perubahan pada kulit, kulit terasa lebih kering, disertai keringat yang lebih banyak, mengalami nyeri sendi, bahkan sakit kepala. Selain itu, dahi dan rahang terlihat lebih besar, jari tangan dan kaki melebar membesar, dan pembesaran yang terjadi tidak wajar pada kaki dan tangan. Beberapa ciri-ciri gigantisme dan gejala yang lebih serius sehingga dapat terjadi pada penderita penyakit tersebut sepertihalnya, tekanan darah tinggi, diabetes melitus, bahkan penyakit jantung, seperti gagal jantung akibat adanya pembesaran. Selain itu, tubuh penderita penyakit gigantisme tersebut ternyata berisiko mengembangkan tumor di bagian tubuh lainnya, seperti kanker tiroid yang ditemukan pada sebagian besar penderita penyakit tersebut.

Jika kondisi tersebut tidak segera ditangani, kemungkinan besar akan terjadi beberapa komplikasi terhadap pada penderita. Selain itu, pengobatan dan perawatan medis yang dapat ditujukan untuk mengatasi penyakit ini ternyata juga berisiko menyebabkan terjadinya beberapa komplikasi. Seperti:

  • Insufisiensi adrenal (kelenjar adrenalin tidak memproduksi hormon yang cukup). Penyakit Addison adalah kerusakan pada kelenjar adrenal sehingga tidak memproduksi hormon yang memadai untuk tubuh. Kelenjar adrenal berada di atas ginjal dan terdiri dari dua bagian, yaitu lapisan luar (korteks) dan lapisan dalam (medula).
  • Diabetes insipidus(merasa lebih haus dan buang air kecil lebih sering). Diabetes insipidus adalah kondisi yang cukup langka, dengan gejala selalu merasa haus dan pada saat bersamaan sering membuang air kecil dalam jumlah yang sangat banyak. Jika sangat parah, penderitanya bisa mengeluarkan air kencing sebanyak 20 liter dalam sehari.
  • Hipogonadisme (kelenjar seks memproduksi hormon dalam jumlah kecil atau tidak sama sekali). Hipogonadisme adalah suatu kondisi ketika hormon seksual yang dihasilkan oleh kelenjar seksual (pada pria disebut testis dan pada wanita disebut ovarium) berada di bawah jumlah normal.

 

Sumber: Alodokter.com

 

Mengenal Lebih Mendalam Intoleransi Laktosa

Laktosa adalah gula susu yang ditemukan di semua jenis produk susu, termasuk yogurt, keju, es krim, dan makanan panggang yang mengandung susu. Laktase (dieja dengan “a”, bukan “o”) adalah jenis protein (disebut enzim) dalam usus Anda yang membantu memecah laktosa. Intoleransi laktosa adalah suatu kondisi di mana tubuh seseorang tidak membuat cukup enzim laktase untuk memecah laktosa (gula susu). Jika laktosa tidak dipecah dalam tubuh, maka bakteri yang hidup di usus mengubah laktosa menjadi gas. Kombinasi laktosa dan gas yang tidak tercerna juga dapat menyebabkan sakit perut, kembung, dan terkadang diare.

Apa yang menyebabkan intoleransi laktosa?

Tubuh mencerna laktosa menggunakan zat yang disebut laktase. Ini memecah laktosa menjadi 2 gula yang disebut glukosa dan galaktosa, yang dapat dengan mudah diserap ke dalam aliran darah. Orang dengan intoleransi laktosa tidak menghasilkan cukup laktase, jadi laktosa tetap berada dalam sistem pencernaan, di mana ia difermentasi oleh bakteri. Ini mengarah pada produksi berbagai gas, yang menyebabkan gejala yang berhubungan dengan intoleransi laktosa.

Tergantung pada alasan yang mendasari mengapa tubuh tidak memproduksi cukup laktase, intoleransi laktosa mungkin bersifat sementara atau permanen. Sebagian besar kasus yang berkembang pada orang dewasa adalah turunan dan cenderung seumur hidup, tetapi kasus pada anak kecil sering disebabkan oleh infeksi pada sistem pencernaan dan mungkin hanya berlangsung selama beberapa minggu.

Mengapa beberapa anak tidak toleran laktosa?

Sebagian besar anak-anak memiliki laktase ketika mereka lahir dan dapat mencerna laktosa saat bayi. Laktosa adalah gula utama dalam ASI. Seorang anak dapat mengembangkan intoleransi laktosa setelah infeksi atau reaksi alergi, yang dapat menyebabkan kekurangan sementara enzim laktase. Biasanya ini bersifat sementara, tetapi mungkin berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan sebelum anak dapat menoleransi produk susu lagi. Penyakit kronis lainnya, seperti penyakit celiac, penyakit Crohn, atau infeksi parasit, juga dapat menyebabkan intoleransi laktosa.

Dalam kebanyakan kasus, intoleransi laktosa berkembang sendiri ketika anak-anak bertambah usia. Ketika anak-anak mencapai usia 3 – 6 tahun, tubuh mereka secara alami menghasilkan lebih sedikit laktase daripada yang mereka lakukan pada tahun pertama atau kedua kehidupan. Bagi beberapa anak, produksi terus melambat atau mungkin berhenti sama sekali.

Bagaimana pengobatan intoleransi laktosa?

Dokter atau perawat anak Anda akan membantu memutuskan perawatan terbaik berdasarkan gejala anak Anda. Sebagian besar anak-anak dengan intoleransi laktosa mampu mentoleransi beberapa laktosa. Anak-anak ini berhasil dengan diet rendah laktosa (diet dengan sedikit produk susu).

Ada juga pil atau tetes laktase yang dijual bebas yang membantu mencerna laktosa. Pil dapat diminum ketika produk susu dimakan untuk menghentikan gejala. Tetes dapat ditambahkan ke susu untuk memecah laktosa semalaman, dan kemudian susu dapat diambil tanpa gejala.

Apakah makanan menyebabkan gejala pada anak dengan intoleransi laktosa sering tergantung pada seberapa banyak laktosa dalam makanan. Sebagai contoh, secangkir susu mengandung sekitar 12 gram laktosa, sementara satu ons keju cheddar memiliki kurang dari 0,1 gram laktosa. Ini berarti bahwa keju cheddar memiliki 1/100 jumlah laktosa yang ada dalam segelas susu. Karena alasan ini, beberapa anak yang mungkin sakit perut setelah minum susu mungkin bisa makan keju cheddar tanpa kesulitan.

Anak-anak lain mungkin sensitif terhadap jumlah laktosa yang sangat kecil. Anak-anak ini membutuhkan diet ketat bebas laktosa, artinya tidak ada produk susu yang diperbolehkan. Semua label makanan dan makanan harus diperiksa dengan hati-hati untuk memastikan tidak mengandung susu. Setiap anak berbeda, sehingga Anda dapat bekerja dengan tim kesehatan Anda untuk mengetahui diet jangka panjang terbaik untuk anak Anda.

Beberapa produk bebas laktosa seperti keju, susu, dan es krim tersedia di toko bahan makanan. Juga dimungkinkan untuk menemukan pengganti susu. Jika pengganti susu akan menjadi bagian besar dari makanan anak, baca label untuk memastikan memiliki kalori dan protein yang mirip dengan susu biasa.

Susu adalah sumber nutrisi yang baik. Jika anak Anda menjalani diet terbatas laktosa, penting untuk mengganti kalsium, vitamin D, dan riboflavin (vitamin B) dalam makanan anak Anda. Anda dapat menambahkan makanan yang diperkaya kalsium, vitamin D, dan riboflavin ke dalam makanan atau memberi anak Anda vitamin yang mengandung nutrisi ini.

 

Sumber referensi :

www.nhs.uk

gikids.org

 

sumber gambar

hellosehat.com

Gagap Adalah Gangguan Yang Perlu Diketahui

Gagap adalah sebuah gangguan yang menyerang bagian suara pada manusia. Saat orang yang mengidap gagap berbicara, biasanya akan memperpanjang suku kata yang sedang diucapkannya atau diulang berkali-kali. Masalah gagap memang bisa terjadi pada siapa saja dan usia berapa saja. Namun, ketika anak-anak berusia kurang lebih 5 tahun dan mengalami gagap ketika ingin menyampaikan apa yang ingin disampaikan, umumnya akan sembuh dengan sendirinya. Hal tersebut terbilang wajar, karena anak-anak memang kemampuan berbahasa serta berbicara yang dimiliki masih belum berkembang.

Meski bisa dianggap wajar saat terjadi pada anak-anak, sebaiknya orang tua melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk anak yang gagap. Karena, bisa saja ada masalah yang terjadi pada saraf, otak, serta otot yang memang memiliki hubungan dengan kemampuan untuk bersuara. Apabila tidak ditangani, maka gangguan bicara ini semakin memburuk dan akan berlanjut hingga anak tersebut dewasa.

Pada penderita gagap, berkomunikasi dengan orang lain pun terbilang sulit, dan menjadi berpengaruh besar pada hidup serta akan berdampak pada kepercayaan diri pengidap. Ketika seorang pengidap gagap ingin mengatakan sesuatu, sebenarnya ia mengetahui apa yang sedang ingin ia katakan, hanya saja ketika mengucapkannya, akan terasa sulit. Maka dari itu, biasanya orang yang mengidap hanya mengatakan satu kata saja, bahkan ketika mengucapkan satu suku kata pun terasa sulit dan diucap berulang-ulang. Yang lebih parah, pengidap gagap tidak bisa melanjutkan kalimat yang ingin ia ucapkan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi orang yang bisa mengidap gagap dilansir dari hellosehat.com antara lain faktor keturunan, yaitu ketika ada keluarga atau kerabat yang mengalami gangguan gagap, biasanya akan menurunkan gangguan ini pada generasi selanjutnya. Maka ketika kamu mengidap gagap, dan ada keluarga atau kerabatmu yang mengidap gangguan ini, kamu bisa mengetahui faktor penyebabnya.

Selain itu, pada anak-anak yang perkembangan dalam berbicara serta kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan, akan bisa pula menjadi faktor penyebab untuk mengidap gagap. Gagap adalah kondisi yang lebih sering terjadi pada laki-laki jika dibandingkan dengan perempuan. Lalu, ketika orang yang mengidap gagap menerima tekanan baik dari keluarga, kerabat, dan orang-orang terdekat dan berujung dengan mengalami stres, akan memperburuk kondisi orang yang gagap.

Yang bisa membuat seseorang gagap berkepanjangan yaitu adanya kelainan atau masalah yang terjadi pada saraf untuk mengendalikan saraf motorik bicara, karena sudah terdapat beberapa data yang membuktikan bahwa ketika masalah kendali motorik untuk bicara seperti sensorik dialami oleh seseorang, akan membuat orang tersebut gagap. Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa seseorang bisa mengalami gagap dengan penyebabnya adalah gen, atau keturunan dari keluarga atau kerabat yang juga mengidap gangguan ini.

Ada pula kendala atau masalah medis yang bisa menjadi penyebab untuk terjadinya gagap pada seseorang seperti contohnya adalah stroke, cedera yang dialami oleh otak, serta trauma. Tidak hanya masalah medis pada organ-organ yang penting, tetapi juga bisa gangguan medis pada mental manusia seperti misalnya trauma secara emosional yang dapat membuat seseorang menjadi gagap, meski kasus ini terbilang jarang terjadi.

Gagap adalah suatu gangguan yang memang membuat tingkat kepercayaan diri seseorang menjadi menurun drastis dan akan mempengaruhi seluruh kehidupannya. Maka dari itu, ketika anak yang sudah mengalami gagap sejak lahir harus segera ditangani agar mendapatkan perawatan atau pengobatan medis sehingga tidak berlanjut ketika anak-anak tumbuh dewasa.

Jadi gangguan gagap adalah masalah yang harus segera diselesaikan agar tidak berdampak panjang, semoga artikel ini bermanfaat, ya.

 

Sumber: hellosehat.com

Ciri-ciri Gagap Yang Bisa Kamu Kenali

Gagap merupakan suatu gangguan yang menyerang fungsi untuk berbicara atau biasa juga disebut dengan gangguan verbal. Saat seseorang merasakan kesulitan saat mengucapkan suatu kata, atau mengucapkannya secara terbata, maupun memperpanjang satu kata yang diucapkannya, hal itu disebut dengan gagap.

Pada umumnya, yang mengalami gagap adalah anak yang usianya di bawah 5 tahun. Hal ini dikarenakan anak-anak masih dalah tahap berkembang mengenai bicara maupun berbahasa. Saat usia anak bertambah, maka gagap yang dialami oleh anak akan berangsur-angsur menghilang dan sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi, orang tua harus waspada ketika gagap yang dialami oleh anak berlanjut hingga menginjak usia dewasa. Maka dari itu, agar tidak terlambat, ada baiknya untuk segera memeriksakan anak agar mengetahui kondisi anak lebih lanjut.

Jika gagap terjadi ketika seseorang sudah dewasa, maka biasanya disebabkan oleh gangguan otot atau saraf. Kamu harus mengetahu ciri-ciri gagap agar bisa menindaklanjutinya dengan cepat dan tepat. Berikut ini merupakan ciri untuk gangguan gagap yang harus kamu ketahui menurut doktersehat.com.

Ciri gagap yang paling utama adalah sulitnya dalam berbicara. Maka jangan heran jika ada temanmu yang mengucapkan satu kata yang tersendat-sendat, itu artinya ia mengalami masalah gagap. Tidak hanya tersendat, tetapi memang sulit untuk mengucapkan meski kata-katanya sudah terpikirkan dengan baik, serta bisa saja memperpanjang suatu suku kata. Ciri lainnya adalah pada pengidap gagap, tidak pernah menatap lawan bicaranya ketika sedang berkomunikasi.

Untuk ciri-ciri gagap yang terjadi pada fisik seorang pengidap ialah bibir yang gemetar, mata yang sering berair, wajah pengidap yang yang terlihat kaku atau tegang, selalu mengepalkan tangan, dan kedutan yang terjadi pada otot di wajah.  Semakin lama pengidap gagap mengalami masalah ini, bisa menimbulkan masalah-masalah lain seperti stress karena merasakan tekanan-tekanan, mudah kelelahan, atau sebaliknya menjadi lebih bersemangat, serta terburu-buru.

Pada orang yang mengalami gagap, meski kesulitan berbicara pada orang lain, tetapi ketika ia berbicara kepada diri sendiri, maka cara bicaranya akan normal dan tidak gagap. Hal tersebutlah yang membuat masalah ini menjadi menarik dibandingkan dengan masalah-masalah lain. Nah, penderita gagap harus cepat dibawa ke ahli medis atau dokter ketika mengalami beberapa gejala seperti gagap yang dialami melebihi waktu 6 bulan, saat usia bertambah justru gagap semakin bertambah buruk. Gagap keluar lebih sering atau setiap kata dan kalimat yang diucapkan oleh pengidap.

Selain itu juga, ciri-ciri gagap yang harus segera melakukan konsultasi pada dokter adalah ketika seorang pengidap mengalami gangguan pada psikis saat mengidap gagap, maka sangat wajib untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter untuk diketahui lebih lanjut lagi kondisi pada pasien. Kondisi-kondisi psikis ini bisa seperti kepercayaan diri yang semakin menurun, merasakan takut saat berinteraksi dengan orang lain, serta merasakan gelisah pula. Kemudian semakin lama, semakin sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Saat menghubungi dokter dan melakukan konsultasi, ada baiknya didampingi oleh kerabat dan keluarga. Karena setelah berkonsultasi serta tanya jawab, pasien gagap akan lanjut untuk melakukan diagnosis agar penyebab gagap bisa diketahui secara pasti. Setelah selesai melakukan diagnosis, apabila memang diperlukan pasien akan lanjut untuk melaksanakan beberapa terapi yang dibutuhkan.

Karena, untuk obat-obatan bagi pengidap  gagap masih belum ditemukan secara pastinya. Maka dari itu, ketika melakukan terapi memang ada baiknya ditemani dan tidak sendirian. Itulah ulasan mengenai ciri-ciri gagap yang bisa kamu ketahui. Semoga artikel ini bermanfaat, ya.

 

Sumber: intisari.grid.id

Berikut beberapa hal yang  menjadi penyebab munculnya gigantisme itu sendiri.

Gigantisme merupakan suatu keadaan di mana seseorang mengalami pertumbuhan yang tidak normal. Adanya hormon pertumbuhan (growth hormone) yang berlebih menjadi salah satu penyebab gigantisme itu sendiri. Kelenjar pituitari sendiri merupakan sebuah kelenjar yang berukuran sebesar kacang dan terletak pada bagian dasar otak. Kelenjar ini berperan dalam produksi sejumlah hormon yang memengaruhi fungsi tubuh yang meliputi pengaturan suhu, perkembangan seksual, pertumbuhan, metabolisme, serta produksi urine. Kondisi yang langka tersebut dapat menyebabkan penderita mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Keadaan yang paling sering terlihat pada penderita adalah pertumbuhan berlebihan pada tinggi badan, otot, maupun organ-organ tubuh. Sebagai akibatnya, penderita akan tampak lebih besar daripada orang seusianya. Kelebihan hormon pertumbuhan pada gigantisme terjadi akibat kelenjar pituitari yang memproduksi terlalu banyak hormon pertumbuhan yang dikenal dengan istilah somatotropin. Beberapa gejala yang terjadi pada penderita penyakit gigantisme dapat beraneka ragam, dapa kita lihat dari seberapa besar ukuran tumor pada kelenjar pituitari yang terjadi pada mereka. Apabila ukurannya terus bertambah besar, tumor dapat menekan saraf-saraf yang terdapat di otak.[1] “dilansir dari laman Honestdocs” Adanya hormon yang terjadi pada pertumbuhan atau Growth hormone (GH) secara berlebihan dapat menjadi penyebab gigantisme terjadi. Hormon pertumbuhan di sekresi melalui kelenjar hipofisis yang kadarnya tidak selalu sama setiap hari. Perlu kita ketahui hormon pertumbuhan pada otak dapat dikendalikan oleh hipotalamus untuk mengirimkan senyawa neuropeptida ke kelenjar dan membentuk GHRH (Growth Hormone Releasing Hormone). Selain karena pengaruh hormon, munculnya penyakit gigantisme juga dapat disebabkan oleh tumbuhnya sel tumor pada kelenjar hipofisis. Pengaruh makanan yang tidak sehat seperti makanan kaleng dan makanan cepat saji dapat ternyata meningkatkan resiko pertumbuhan sel tumor. Penyebab gigantisme lainnya seperti adanya kelainan jaringan endokrin atau McCune-Albright Syndrome, Nuerofibromatosis, Multiple endocrine neoplasia tipe 1, maupun Carney Complex. Beberapa gejala penyakit gigantisme yang dapat terjadi pada anak-anak atau remaja dengan kondisi tersebut, antara lain:

  • Ruas jari tangan yang tebal dan besar
  • Sering berkeringat
  • Pembesaran pada tangan dan kaki
  • Tinggi badan melebihi usia teman sebaya dan orang normal pada umumnya
  • Perubahan suara
  • Nyeri sendi
  • Pembesaran dagu dan dahi
  • Wajah terlihat selalu berminyak
  • Keterlambatan masa pubertas

Gejala Gigantisme di atas dapat menimbulkan beberapa kondisi yang lebih serius dan biasanya dapat diketahui setelah dilakukan beberapa pemeriksaan. Kondisi tersebut di antaranya peningkatan glukosa darah (diabetes), tekanan darah tinggi (hipertensi), dan kelainan jantung (ukuran jantung besar). “dilansir dari laman Hellosehat” Gigantisme adalah salah satu jenis penyakit langka yang dapat terjadi pada siapa saja, terlepas dari kelompok usia dan golongan ras. Perlu kita ketahui juga bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti kita dapat dipastikan akan menderita kondisi ini. Dalam beberapa kasus, tidak menutup kemungkinan bahwa penyakit tersebut dapat kita derita tanpa adanya satu pun faktor risiko pada diri Anda. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita penyakit ini. Berikut beberapa faktor resiko dari penyakit gigantisme itu sendiri seperti:

  • Menderita penyakit genetik langka

Anggota keluarga yang memiliki kelainan kesehatan tertentu, termasuk menderita penyakit sindrom Sotos, sindrom Beckwith-Wiedemann, dan sindrom Weaver dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini.

  • Usia

Kelainan pertumbuhan ini lebih banyak terjadi pada anak-anak, walaupun tidak menutup kemungkinan kondisi ini dapat dialami oleh orang dewasa.

Ketika kita sudah mengetahu penyebab gigantisme sehingga dapat terjadi. cara mengatasi penyakit tersebut dengan mengendalikan kadar hormon, dengan cara membuat kadar hormon mendekati kadar normal:

  • Pengobatan

Dokter dapat memberikan beberapa obat untuk mengendalikan kadar hormon pertumbuhan. Obat-obatan ini dapat menstimulasi hormon lainnya pada tubuh dan mengurangi produksi hormon pertumbuhan.

  • Terapi radiasi

Prosedur ini dapat mengurangi ukuran tumor secara bertahap dengan menggunakan radiasi cahaya tanpa merusak jaringan lainnya.

  • Operasi

Operasi dilakukan untuk mengangkat tumor pada kelenjar pituitari. Prosedur ini menyebabkan tumor mengecil dan penurunan produksi hormon, meski kondisi ini tidaklah serius.

 

 

Sumber referensi :

Sehatq.com

Hellosehat.com

Apa yang dimaksud dari penyakit gigantisme. Simak berikut ini

“dilansir dari laman Alodokter” Gigantisme adalah berlebihnya produksi hormon pertumbuhan pada anak-anak yang memberi dampak kepada ukuran tinggi dan berat badannya. Penyakit gigantisme berbeda dengan kondisi akromegali pada orang dewasa, yang terjadi ketika lempeng epifisis sudah menutup. Namun, baik gigantisme maupun akromegali sama-sama disebabkan oleh berlebihnya produksi hormon pertumbuhan yang dihasilkan kelenjar pituitari atau hipofisis di otak. Kondisi tersebut tergolong langka dan dapat terjadi sebelum lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan di dalam tulang menutup. Selama masa pertumbuhan, anak-anak yang terkena gigantisme dapat memiliki ukuran tinggi dan berat badan di atas rata-rata. Meski demikian, gigantisme tidak mudah dikenali gejalanya dan awalnya dianggap sebagai fase pertumbuhan anak yang wajar. Pada akromegali, penderita biasanya baru didiagnosis setelah menderita gejala yang berat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan telatnya pengobatan sehingga dapat mengakibatkan komplikasi dan membahayakan nyawa. Beberapa penyebab penyakit gigantisme yang paling sering ditemui adalah tumor pada kelenjar hipofisis atau pituitari yang terletak di bagian bawah otak. Kelenjar tersebut berperan pada perkembangan seksual, pengendalian suhu tubuh, produksi urine, serta metabolisme yang terjadi pada  pertumbuhanTumbuhnya tumor pada kelenjar hipofisis dapat menyebabkan kelenjar ini memproduksi hormon pertumbuhan secara berlebihan. Selain hal tersebut, penyebab gigantisme lainnya yang dapat kamu ketahui antara lain adalah:

  • Multiple endocrine neoplasiatype 1 yang juga dikenal sebagai MEN 1, yaitu tumbuhnya tumor pada kelenjar hipofisis, kelenjar paratiroid, dan pankreas. Penyakit ini merupakan kelainan yang diturunkan.
  • Neurofibromatosis, yaitu tumbuhnya tumor pada sistem saraf dan merupakan kelainan turunan.
  • Carney complex, yaitu tumbuhnya tumor jinak pada jaringan ikat, tumor jinak atau ganas pada kelenjar endokrin, serta munculnya bintik-bintik yang lebih gelap pada kulit. Kondisi ini merupakan penyakit yang diturunkan.
  • Sindrom McCune-Albright yang ditandai dengan pertumbuhan tidak wajar pada jaringan tulang, kelainan pada kelenjar, dan munculnya bercak cokelat muda pada kulit.

Penyakit gigantisme merupakan suatu kelainan yang dilatarbelakangi oleh beberapa faktor risiko tertentu. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kondisi ini, kita dapat lakukan konsultasi pada dokter tentang penyakit tersebut. Penyakit tersebut dapat dikatakan langka. Pada umumnya, penyakit ini lebih sering ditemukan pada anak-anak. Terdapat pula kondisi pertumbuhan hormon berlebih yang terjadi pada sejumlah orang dewasa, namun kondisi ini disebut dengan akromegali. “dilansir dari laman Hellosehat” beberapa tanda dan gejala utama yang dapat berhubungan dengan gigantisme merupakan suatu ukuran tubuh yang lebih besar dan tinggi jika dibandingkan dengan orang-orang normal. Selain itu, terjadi pula kondisi pembesaran pada otot dan organ-organ tubuh tertentu. Berikut beberpa gejala lainnya yang dapat terjadi, seperti:

  • Tangan terasa lembut seperti adonan roti
  • Dahi dan rahang lebih lebar
  • Adanya carpal tunnel syndrome (CTS)
  • Mengalami nyeri sendi
  • Sakit kepala
  • Barisan gigi bagian bawah menonjol ke depan
  • Lidah, hidung, dan bibir membesar
  • Pria memiliki suara yang bertambah berat
  • Perubahan pada kulit
  • Pubertas datang terlambat
  • Pembesaran yang tidak wajar pada kaki dan tangan
  • Jari tangan dan kaki melebar dan membesar
  • Kulit lebih kering
  • Kulit berkeringan lebih banyak

Tanda-tanda dan gejala yang lebih serius juga ternyata dapat timbul pada penderita penyakit tersebut. Beberapa di antaranya adalah:

  • Tekanan darah tinggi
  • Diabetes melitus
  • Penyakit jantung, seperti gagal jantung akibat adanya pembesaran

Selain itu, tubuh penderita penyakit gigantisme dapat berisiko mengembangkan tumor di bagian tubuh lainnya, seperti kanker tiroid, yang terkadang ditemukan pada sebagian besar penderita penyakit ini.

 

 

Sumber: Hellosehat.com

ANAK BALITA MUDAH SAKIT KARENA DAYA TAHAN TUBUH MENURUN? JANGAN ABAIKAN KEBUTUHAN GIZI!

 

Orang tua mana yang tidak akan risau ketika balita mudah demam, flu, atau batuk? Balita masih dalam masa pertumbuhan awal dengan sistem imun yang ada dalam tubuh belum sempurna dan cukup kuat untuk melindungi tubuh  layaknya orang tua. Sehingga balita rentan terserang berbagai kuman, bakteri, atau virus yang menjadi bibit penyakit. Daya tahan tubuh berperan penting dalam menangkal kuman, bakteri atau virus yang dapat mengancam kesehatan. Jika sistem kekebalan tubuh atau daya tahan tubuh balita menurun, dapat menyebabkan balita mudah terserang bakteri dan jatuh sakit. Terlebih lagi pada tahap balita, anak mulai aktif mengenal lingkungan sekitar dan mulai aktif menggerakan seluruh organ tubuh. Seringkali anak juga mulai sering bermain di luar ruangan, dan belum dapat membedakan antara bersih dan kotor, sehingga ancaman kuman, bakteri, atau virus tidak dapat dihindari. Untuk menjaga balita dari kuman, bakteri, atau virus agar tidak jatuh sakit, orang tua harus memerhatikan kebersihan di lingkungan sekitar dan kebutuhan gizi anak balita.

Menu gizi seimbang merupakan kebutuhan penting yang berperan sebagai penunjang kesehatan tubuh. Tidaklah cukup apabila hanya untuk memenuhi rasa lapar tanpa memerhatikan kebutuhan gizi yang baik untuk daya tahan tubuh balita. Ketika menyiapkan makanan untuk balita, sangat perlu diperhatikan agar kebutuhan gizi anak balita terpenuhi dengan baik. Anak pada usia balita 1-3 tahun sudah dapat makan makanan yang tidak lagi harus dilunakkan. Sehingga lebih mudah untuk memersiapkan makanan tanpa repot melunakkan. Namun, bukan berarti balita dapat makan sembarangan ya! Untuk memenuhi kebutuhan daya tahan tubuh balita, idealnya harus terdiri dari aneka jenis nutrisi seperti karbohidrat, mineral, vitamin, protein, lemak, dan serat.

Dalam pemenuhan kebutuhan gizi balita, dulu berpedoman dengan prinsip makan empat sehat lima sempurna. Namun saat ini tidak berlaku lagi, karena perkembangan lingkungan dan situasi saat ini yang berbeda dan menuntut pemenuhan gizi secara lebih telah mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang. Dilansir dari doktersehat, konferesi pangan sedunia pada tahun 1992 menghasilkan kesepakatan tentang pedoman gizi seimbang. Perhatikan konsep menu gizi seimbang sesuai Pedoman Gizi Seimbang berikut ini:

  1. Tumpeng Gizi Seimbang (TGS)

Dalam konsep ini, diatur mengenai makan sehat dan pola hidup sehat, yang terdiri dari:

  1. Menu makanan pokok, untuk balita dapat memberikan kentang, roti, umbi-umbian dan nasi dengan anjuran 3-4 porsi dalam sehari. Usahakan ada variasi menu makanan.
  2. Menu buah dan sayur, dalam sehari memerlukan 3-4 porsi sayur, dan 2-3 porsi buah. Dapat menambahkan buah dan sayur untuk balita, seperti semangka, alpukat, wortel, bayam.
  3. Menu protein, untuk memenuhi kebutuhan gizi diperlukan protein 2-4 porsi sehari. Proten dapat diperoleh dari lauk-pauk nabati dan hewani seperti tempe, tahu, telur, daging ayam, ikan, dan susu.
  4. Garam gula minyak

Pada usia balita usahakan tidak terlalu mengonumsi menu makanan yang tinggi gula, minyak, dan garam karena dapat memengaruhi perkembangan tubuh. Porsi yang disarankan yakni maksimal 4 sdm gula, 1 sdt garam, dan 5 sdm minyak dalam sehari.

  1. Air putih, biasakan sejak dini balita untuk minum air putih agar kebutuhan air dalam tubuh terpenuhi.
  2. Piring Makanku

Pada konsep piring makanku (dalam satu kali makan), prosi yang diperlukan dalam sehari yaitu 2-3 kali makan. Menu gizi seimbang dalam piring makanku yang dapat diberikan untuk balita yakni:

  1. Karbohidrat, untuk memenuhi karbohidrat untuk balita dapat memberikan nasi atau roti tawar dengan takaran 5-6 sdm nasi atau 1 lembar roti tawar dalam satu kali makan.
  2. Protein, kebutuhan protein dapat mengonsumsi daging ayam, daging sapi, atau ikan yang dihaluskan sebanyak 2-5 sdm sertiap porsinya.
  3. Sayur dan buah , kebutuhan sayur dan buah untuk balita dapat diberikan brokoli, wortel, pisang, semangka dan lainnya dengan takaran brokoli 2-3 sdm, dan pisang 1 buah dalam 1 porsi.
  4. Susu dan yogurt, pemberian susu dan yogurt untuk balita yang sudah lepas dari ASI dapat diberikan 2-3 susu sapi, susu kedelai, dan setengah gelas yogurt.
  5. Camilan, jangan lupa untuk memberikan camilan kepada balita sebanyak 2-4 keping biskuit sehari.

Itulah konsep menu gizi seimbang berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang (PDS) pengganti empat sehat lima sempurna. Yuk, selalu perhatikan asupan kebutuhan gizi anak balita agar tercukupi  untuk menjaga daya tahan tubuhnya!

 

Sumber gambar: hellosehat.com